Ruangku bukanlah hanya duniameskipun maya tak penah cukup tuk membuat tersenyum
dirinya pun mengia,
saat perubahan hanyalah melankolis belaka
untuk sesuatu/seseorang yang kuanggap sebagai false scrotum...
Tak juga reda
perdebatan dalam dada
takkan mungkin hilang
kuyakinkan itu selalu kan terngiang
aku benci diriku sendiri
ketika tak bisa membenci apa yang ingin ku benci
seperti banci ku telah terlucuti
yang kulakukan hanyalah merintih
hanyalah tertatih meski terjadi, itu semua mimpi